DENGARLAH…..!!!

Guru saya selalu menyampaikan pesan-pesan moral kepada murid-muridnya lewat cerita pendek yang bersahaja dan mudah untuk dipahami. Disamping cerita pendek, Beliau juga menyampaikan tamsilan-tamsilan tentang hakikat dan makrifat dalam bentuk yang sederhana sehingga bisa diterima oleh semua kalangan baik murid lama maupun yang baru belajar thariqat. Salah satu cerita yang sering Beliau sampaikan setelah zikir bersama (tawajuh) adalah Ilmu Tebu
  • Majelis Dzikir AtTauhid Sumut“Siapa diantara kalian yang belum pernah melihat tebu?” begitulah Beliau membuka cerita setelah terlebih dahulu menyampaikan puji-pujian kepada Allah SWT dan shalawat kepada Nabi SAW beserta para sahabat dan pengikut-pengikutnya serta kepada seluruh auliya-auliya akbar Thariqat Nadsyabandi. Beliau selalu mengingatkan kami bahwa para Nabi dan para Wali itu tidak pernah mati, mereka hanya berlindung disisi Allah SWT.

    Kemudian Beliau bertanya lagi,”Kalau kalian perhatikan tebu, bagian mana yang paling manis, ujungnya atau pangkalnya?”. Serentak murid-murid Beliau menjawab, “Pangkalnya Guru!”.

    “Benar, tebu itu yang manis adalah pangkalnya semakin ke ujung maka akan semakin hambar. Coba kalian perhatian tebu apabila ditiup angin. Bagian yang bergoyang mengikuti arah angin adalah pucuknya. Kalau angin datang dari timur maka dia akan menghadap kebarat begitu juga sebaliknya kalau angin datang dari utara maka ujung tebu akan mengikuti arah angin menuju ke selatan. Bagian ujungnya itu tidak ada pendirian, terombang ambing menurut keadaan.”

    Guru diam sejenak kemudian Beliau kembali melanjutkan ceramahnya, “Begitulah gambaran orang yang belum menemukan seorang pembimbing rohani, dia akan terus menerus mencari kebenaran tanpa batas waktu padahal umur yang diberikan Tuhan hanya sebentar. Apabila didengar ada ulama A disana keramat maka dia akan ke ulama A, besoknya didengar lagi ada kiayi Z sangat hebat maka dia mendatangi kiayi Z. Orang seperti ini adalah ibarat sama dengan buih dilautan yang akan mengikuti arus laut

Gerakan Peduli Ummat

300x150copy hp

Nomor : 037/Pan-MTZA/SUMUT/VI/2014                                                                        Bandar Klippa, 01 April 2014
Lampiran : 1 ( satu ) berkas proposal
Perihal : Bantuan Dana / Sponsorship

Yth,
Bapak / Ibu : …………………………………….
Di
T e m p a t
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Segala puji hanya bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat hingga saat ini. Teriring Salam dan Do’a semoga kita senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT. Aamiin
Dalam rangkah Memperingati Isra’ Wal Mi’raj Nabi Muhammad Saw 1435 H kami akan melaksanakan kegiatan DZIKIR AKBAR dan di isi dengan Bakti Sosial berupa Khitanan Massal dan Penyantunan oleh Majelis Ta’lim – Dzikir At Tauhid, yang Insyah Allah akan dilaksanakan pada:
Hari,Tanggal : Minggu & Senin, 25 & 26 Mei 2014
Tempat : Masjid Al Ma’wa Pasar 6 Dusun v Desa Bandar Klippa,Kec Ps Tuan.
Pukul : 08.00 wib s.d Selesai
Mengingat kegiatan ini sangat penting demi kemajuan Ummat Islam, maka untuk suksesnya penyelenggaraan ini dibutuhkan Dana yang cukup besar. Sehubungan dengan hal tersebut kami mohon kepada Bapak / Ibu untuk dapat berpartisipasi menjadi Donatur / Sponsorship dalam kegiatan ini.
Demikian permohonan ini kami sampaikan, sebagai bahan pertimbangan kami lampirkan proposal kegiatan. Atas perhatian dan partisipasi Bapak/Ibu, kami ucapkan terima kasih.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami ucapkan kepada Alloh SWT, karena berkat Taufiq dan Hidayah-Nya serta pertolongan-Nya kami dapat menyusun proposal ini. Sholawat dan salam-Nya mudah-mudahan selalu tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad SAW, keluarganya, shohabatnya dan kepada tabi`it-tabi`innya.
Dalam proposal ini, kami membahas tentang pentingnya peranan Islam dalam mensukseskan pembangunan Nasional yang Religius. Sehingga tidak ada waktu yang terbuang sia-sia, dan hal ini sangat relefan dengan firman Alloh dalam Al-Quran Surat Al-`Ashr. Maka dari itu Kami bermaksud untuk melaksanakan GERAKAN “ PEDULI UMMAT “ Bersama MAJELIS TA’LIM – DZIKIR AT TAUHID. Kami sangat mengharapkan sekali Uluran dan Bantuan dari semua pihak khususnya para Donatur yang akan membantu terhadap kelancaran kegiatan kami.
Dalam penyusunan proposal ini, penyusun menyadari jauh dari kesempurnaan baik dalam penempatan kata maupun cara penyusunannya, untuk itu penyusun menunggu saran atau koreksi dari semua pihak untuk perbaikan dimasa yang akan datang.
Atas segala hormat kami ucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang bersedia membantu demi kelancaran kegiatan tersebut. Semoga segala bantuan yang diberikan mendapat imbalan dari Alloh SWT
Bandar Klippa, 01 April 2014
Penyusun

I. PENDAHULUAN
Perkembangan dan moderenisasi zaman adalah suatu hal yang tidak bisa kita hindarkan. Arus globalisasi yang semakin deras menuntut Ummat Islam berlari kencang mengikuti perkembangaan zaman yang semakin pesat.
Perkembangan zaman yang begitu pesat membuat Ummat Islam harus benar-benar pandai dalam memilih dan memilah mana yang positif dan mana yang negatif agar tidak terjadi degradasi moral,akhlak dan nilai – nilai Agama.
Untuk itulah diperlukan kegiatan-kegiatan positif dalam menyalurkan aspirasi-aspirasi, hoby, bakat dan lain sebagainya, agar ummat mampu mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya dan terhindar dari degradasi moral, akhlak dan nilai-nilai Agama.
Untuk menjembatani hal itu diperlukan suatu wadah sebagai motor yang bisa mendrive dan membawa ummat Islam ke arah yang positif dan tetap memegang teguh nilai-nilai agama sehingga menjadikan dirinya sebagai ummat yang berakhlak mulia dan menjunjung tinggi nilai-nilai Agama dan menjaga Moral Bangsa.Kami dari Keluarga Besar Majelis Ta’lim – Dzikir At Tauhid Sumut bermaksud mengadakan kegiatan Gerakan “ Peduli Ummat “ bersama Majelis Ta’lim – Dzikir At Tauhid.

 

 
II. DASAR PEMIKIRAN
1. Berdasar kepada program pemerintah untuk turut serta membangun sumberdaya manusia yang berakhlak mulia.
2. Sebagai sarana untuk memelihara kemuliaan Agama Islam
3. Gerakan “Peduli Ummat”
4. Rasa peduli terhadap sesama saudara – saudara, khususnya terhadap kaum Dhu’afa, Yatim
5. Mengajak Ummat Islam untuk lebih membudayakan Kesehatan
6. Membudayakan kepada masyarakat khususnya ummat Islam agar saling berbagi dan peduli terhadap anak – anak bangsa.
7. Rasa peduli kami untuk membangun SDA dan SDM yang berkwalitas, berakhlakul karimah dan bertaqwa
8. Membudayakan Dzikir ditengah masyarakat Islam

III. MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud dan tujuan dari kegiatan ini adalah :
1. Menjalin Tali Silahturahmi
2. Memakmurkan Syi’ar Islam
3. Turut menjaga dan mengembangkan potensi Ummat yang berpegang teguh pada nilai-nilai agama agar menjadi Ummat yang berbakti kepada agama dan bangsa.
4. Membangun Rasa peduli terhadap orang – orang yang tidak mampu
5. Menggerakan Gemar bersedekah, mengaji dan berdzikir
6. Berusaha dan berikhtiar untuk menghilangkan penyakit Lahir & Bathin
7. Agar Ummat menjaga kesehatan
8. Ikut serta membantu program pemerintah membangun pendidikan
IV. TEMA
“Persiapkan Diri Untuk Suatu Perubahan, Kuncinya Ialah Perbaiki Diri, Perbaiki Hidup, Perbaiki Ibadah, Perbanyak Dzikir dan Perbanyak Sedekah ”
V. ANGGARAN BIAYA

1 Mubaligh = Rp 500.000
2 Sounds System = Rp 500.000
3 Qori’ = Rp 200.000
4 Tenda + Pentas = Rp 800.000
5 Medikal 50 Jiwa x Rp 150.000 = Rp 7.500.000
6 Santunan 50 Jiwa x Rp 50.000 = Rp 2.500.000
7 Sarung + Lobe 50 pcs x Rp 40.000 = Rp 2.000.000
8 Konsumsi = Rp 4.000.000
9 Administrasi – Rp 200.000
10 Tranportasi =Rp 300.000
11 Undangan = Rp 200.000
12 Bendera + Spanduk 20 pcs x Rp 100.000  =Rp 2.000.000
13 Akomudasi = Rp 1.000.000
14 Shooting Video + Photo = Rp 1.000.000
15 Biaya Taktis = Rp 1.000.000
J U M L A H Rp 23.700.000
Terbilang : Dua Puluh Tiga Juta Tuju Ratus Ribu Rupiah

 
VI. TARGET DANA
Anggaran biaya akan di peroleh dari :
1. Intansi Pemerintah
2. Pengurus dan Anggota Assosiasi Pemuda Gerakan Peduli Ummat dan Majelis Dzikir At Tauhid
3. Simpatisan
4. Donatur
VII. WAKTU PELAKSANAAN
Waktu pelaksanaan :
1. Khitanan Massal : Tgl 25 Mei 2014, Hari Minggu Pkl 08.00 wib
2. Dzikir Akbar & Penyantunan : Tgl 26 Mei 2014, Hari Senin Malam Selasa Pkl 20.00 wib

IX. PENUTUP
Membina dan mengembangkan potensi generasi muda adalah suatu keharusan, agar terbentuk generasi muda yang berakhlak mulia,menjunjung tinggi nilai-nilai agama sehingga menjadi generasi muda yang bermoral dan berguna bagi agama bangsa dan negara. Oleh karena itu melalui kegiatan yang akan kami laksanakan mudah-mudahan mampu membentuk generasi muda yang dinamis. Melalui kegiatan ini pula kami memohon kepada semua pihak untuk membantu mensukseskan kegiatan yang akan kami laksanakan.
Partisipasi dari semua kalangan sangat kami harapkan, dan mudah-mudahan apa yang Bapak / Ibu berikan baik moral maupun materil dibalas oleh Alloh SWT dengan balasan yang berlipat ganda. Amin..

 

FOTO KEGIATAN BAKTI SOSIAL & DZIKIR AKBAR YANG PERNAH DILAKSANAKAN
OLEH MAJELIS DZIKIR AT TAUHID

Yatim Di khitan

Kediatan Khitanan Massal Yatim & Dhu'afa oleh MAJELIS TA'LIM - DZIKIR AT TAUHID SUMUT
Kediatan Khitanan Massal Yatim & Dhu’afa oleh MAJELIS TA’LIM – DZIKIR AT TAUHID SUMUT

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

dzikir akbar1

 

 

 

 

 

 

 

 

MT IBU-IBU SEKECAMATAN PERCUT SEI TUAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ustadz Muhammad Budiono Al Amin
Ustadz Muhammad Budiono Al Amin

Bicara Yang Benar Ya?

Nabi Saw,”Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, hendaklah ia berbicara yang baik-baik atau diamlah” (HR. Bukhari)

Imam Syafi’i menjelaskan bahwa maksud hadits ini adalah apabila seseorang hendak berkata hendaklah ia berpikir terlebih dahulu.
Jika diperkirakan perkataannya tidak akan membawa mudharat, maka silahkan dia berbicara. Akan tetapi, jika diperkirakan perkataannya itu akan membawa mudharat atau ragu apakah membawa mudharat atau tidak, maka hendaknya dia tidak usah berbicara

Rasul Saw bersabda, “ Kebanyakan dosa anak Adam karena lidahnya. (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)
dalam hadits shahih riwayat Imam Ahmad dan Imam Tirmidzi disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda kepada Mu’adz ra. sambil memegang lidah, “Tahanlah ini!” Mu’adz berkata, “Apakah kami akan disiksa karena apa yang kami ucapkan, wahai Rasulullah?” “Ibumu akan kehilangan dirimu wahai Muadz. Tidaklah wajah orang-orang itu dilemparkan ke dalam api neraka melainkan karena hasil perbuatan lidah mereka.” (HR Tirmidzi dan Ahmad)

Namun begitu, lidah juga merupakan sarana menuju kebaikan dan bisa mengantarkan pemiliknya ke pintu surga. Maka, alangkah damainya orang yang mempergunakan lidahnya untuk senantiasa berzikir, memohon ampun, memuji, bertasbih, bersyukur, dan bertobat kepada Allah dengan lidahnya. Dan alangkah malangnya orang yang mengoyak kehormatan manusia, menodai kesucian, serta mendongkel nilai-nilai kebenaran dengan lidahnya .

marilah kita jaga Lidah kita dari hal-hal yang dilarang Allah, dari memaki, berkata-kata kasar dan menyakitkan hati, ghibah dll.

Ya Allah aku memohon kepada-Mu, karuniakanlah kami dan anak-anak keturunan kami lidah-lidah yang jujur dan terjaga dari segala yang dilarang Allah dan RasulNya. Aamiin

SUFI AGUNG IBRAHIM BIN ADZAM

mintaDia adalah raja di Balkh satu wilayah yang masuk dalam kerajaan Khurasan, menggantikan ayahnya yang baru mangkat. Sebagaimana umumnya kehidupan para raja, Ibrahim bin Adham juga bergelimang kemewahan. Hidup dalam istana megah berhias permata, emas, dan perak. Setiap kali keluar istana ia selalu di kawal 80 orang pengawal. 40 orang berada di depan dan 40 orang berada di belakang, semua lengkap dengan pedang yang terbuat dari baja yang berlapis emas.

Suatu malam, ketika sedang terlelap tidur di atas dipannya, tiba tiba ia dikejutkan oleh suara langkah kaki dari atas genteng, seperti seseorang yang hendak mencuri. Ibrahim menegur orang itu, “Apa yang tengah kamu lakukan di atas sana?” Orang itu menjawab, “Saya sedang mencari ontaku yang hilang.” “Apa kamu sudah gila, mencari onta di atas genteng,” sergahnya. Namun orang itu balik menyerang, “Tuan yang gila, karena tuan mencari Allah di istana.”

Jawabannya membuat Ibrahim tersentak, tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu. Ia gelisah, kedua matanya tidak dapat terpejam, terus menerus menerawang merenungi kebenaran kata kata itu. Hingga adzan Shubuh berkumandang Ia tetap terjaga. Esok harinya, keadaannya tidak berubah. la gelisah, murung, dan sering menyendiri. la terus mencari jawaban di balik peristiwa malam itu. Karena tidak menemukan jawabannya, sementara kegelisahan hatinya semakin berkecamuk, ia mengajak prajuritnya berburu ke hutan, dengan harapan beban di kepalanya sedikin berkurang.

Akan tetapi, sepertinya masalah itu terlalu berat baginya, sehingga tanpa disadarl kuda tunggangan yang ia pacu sejak tadi telah jauh meninggalkan prajuritnya, ia terpisah dari mereka, jauh ke dalam hutan, menerobos rimbunnya pepohonan tembus ke satu padang rumput yang luas. Kalau saja ia tidak terjatuh bersama kudanya, mungkin ia tidak berhenti. Ketika ia berusaha bangun, tiba tiba seekor rusa melintas di depannya. Segera ia bangkit, menghela kudanya

dengan cepat sambil mengarahkan tombaknya ke tubuh buruannya.

Tetapi, saat dia hendak melemparkan tombaknya, ia mendengar bisikan keras seolah memanggil dirinya, “Wahai Ibrahim, bukan untuk itu (berburu) kamu diciptakan dan bukan kepada hal itu pula kamu diperintahkan!” Namun, Ibrahim terus berlari sambil melihat kiri kanan, tapi tak seorang pun di sana, lalu ia berucap, “Semoga Allah memberikan kutukan kepada Iblis!” Dia pacu kembali kudanya. Namun, lagi-lagi teguran itu datang. Hingga tiga kall. la lalu berhenti dan berkata, “Apakah itu sebuah peringatan dari Mu? Telah datang kepadaku sebuah peringatan dari Allah, Tuhan semesta alam. Demi Allah, seandainya Dia tidak memberikan perlindungan kepadaku saat ini, pada hari hari yang akan datang aku akan selalu berbuat durhaka kepada Nyal”

Setelah itu, ia menghampiri seorang penggembala kambing yang ada tidak jauh dari tempat itu. Lalu memintanya untuk menukar pakaiannya dengan pakaian yang ia pakal. Setelah mengenakan pakalan usang itu, ia berangkat menuju Makkah untuk mensucikan dirinya. Dari sinilah drama kesendirian Ibrahim bermula. Istana megah ia tinggalkan dan tanpa seorang pengawal ia berjalan kaki menyongsong kehidupan barunya. Berbulan bulan mengembara, Ibrahim tiba di sebuah kampung bernama Bandar Nishafur.

Di sana ia tinggal di sebuah gua, menyendiri, berdzikir dan memperbanyak lbadah. Hingga tidak lama kemudian, keshalihan, kezuhudan dan kesufiannya mulai dikenal banyak orang. Banyak di antara mereka yang mendatangi dan menawarkan bantuan kepadanya, tetapi Ibrahim selalu menolak.
Beberapa tahun kemudian, ia meninggalkan Bandar Nishafur, dan dalam perjalanan selanjutnya menuju Makkah, hampir di setiap kota yang ia singgahi terdapat kisah menarik tentang dirinya yang dapat menjadi renungan bagi kita, terutama keikhlasan dan ketawadhuannya.

Pernah satu ketika, di suatu kampung Ibrahim kehabisan bekal. Untungnya, ia bertemu dengan seorang kaya yang membutuhkan penjaga untuk kebun delimanya yang sangat luas. Ibrahim pun diterima sebagai penjaga kebun, tanpa disadari oleh orang tersebut kalau lelaki yang dipekerjakannya adalah Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang sudah lama ia kenal namanya. Ibrahim menjalankan tugasnya dengan baik tanpa mengurangi kuantitas ibadahnya. Satu hari, pemilik kebun minta dipetikkan buah delima. Ibrahim melakukannya, tapi pemilik kebun malah memarahinya karena delima yang diberikannya rasanya asam. “Apa kamu tidak bisa membedakan buah delima yang manis dan asam,” tegurnya. “Aku belum pernah merasakannya, Tuan,” jawab Ibrahim. Pemilik kebun menuduh Ibrahim berdusta. Ibrahim lantas shalat di kebun itu, tapi pemilik kebun menuduhnya berbuat riya dengan shalatnya. “Aku belum pernah melihat orang yang lebih riya dibanding kamu.” “Betul tuanku, ini baru dosaku yang terlihat. Yang tidak, jauh lebih banyak lagi,” jawabnya. Dia pun dipecat, lalu pergi.

Di perjalanan, ia menjumpai seorang pria sedang sekarat karena kelaparan. Buah delima tadi pun diberikannya. Sementara itu, tuannya terus mencarinya karena belum membayar upahnya. Ketika bertemu, Ibrahim meminta agar gajinya dipotong karena delima yang ia berikan kepada orang sekarat tadi. “Apa engkau tidak mencuri selain itu?” tanya pemilik kebun. “Demi Allah, jika orang itu tidak sekarat, aku akan mengembalikan buah delimamu,” tegas Ibrahim.
Setahun kemudian, pemilik kebun mendapat pekerja baru. Dia kembali meminta dipetikkan buah delima. Tukang baru itu memberinya yang paling manis. Pemilik kebun bercerita bahwa ia pernah memiliki tukang kebun yang paling dusta karena mengaku tak pernah mencicipi delima, memberi buah delima kepada orang yang kelaparan, minta dipotong upahnya untuk buah delima yang ia berikan kepada orang kelaparan itu. “Betapa dustanya dia,” kata pemilik kebun. Tukang kebun yang baru lantas berujar, “Demi Allah, wahai majikanku. Akulah orang yang kelaparan itu. Dan tukang kebun yang engkau ceritakan itu dulunya seorang raja yang lantas meninggalkan istananya karena zuhud.” Pemilik kebun pun menyesali tindakannya, “Celaka, aku telah menyia-nyiakan kekayaan yang tak pernah aku temui.”

Menjelang kedatangannya di Kota Makkah, para pemimpin dan ulama bersama sama menunggunya. Namun tak seorang pun yang mengenali wajahnya. Ketika kafilah yang diikutinya memasuki gerbang Kota Makkah, seorang yang diutus menjemputnya bertanya kepada Ibrahim, “Apakah kamu mengenal Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang terkenal itu?” “Untuk apa kamu menanyakan si ahli bid’ah itu?” Ibrahim balik bertanya.

Mendapat jawaban yang tidak sopan seperti itu, orang tersebut lantas memukul Ibrahim, dan menyeretnya menghadap pemimpin Makkah. Saat diinterogasi, jawaban yang keluar dari mulutnya tetap sama, “Untuk apa kalian menanyakan si ahli bid’ah itu?” Ibrahim pun disiksa karena dia dianggap menghina seorang ulama agung. Tetapi, dalam hatinya Ibrahim bersyukur diperlakukan demikian, ia berkata, “Wahai Ibrahim, dulu waktu berkuasa kamu memperlakukan orang seperti ini. Sekarang, rasakanlah olehmu tangan-tangan penguasa ini.”
Banyak pelajaran yang bisa kita petik dari perjalanan seorang bekas penguasa seperti Ibrahim bin Adham, dari pengalamannya memperbarbaiki diri, dari kesendiriannya menebus segala kesalahan dan kelalaian, dari keikhlasan, kezuhudan, dan ketawadhuannya yang tak ternilai

Belajar Dari Pohon

Suatu ketika, seorang guru bertanya pada Sang Maha Guru, “Wahai Maha Guru, aku ingin menjadi guru yang sejati bagi anakku, juga bagi murid-muridku. Apakah Maha Guru memiliki pesan untukku, agar setiap kali mengajar aku akan selalu teringat pesan bijaksanamu?”
Sang Maha Guru terdiam sejenak. Lalu sambil tersenyum arif ia bertanya, “Apakah kamu pernah melihat pepohonan di sekitarmu?”
“Ya, tentu saja,” kata si guru.
Sang Maha Guru bertanya kembali, “Apakah kamu benar-benar melihat dan memperhatikan apa yang mereka lakukan?”
Si guru menggaruk-garuk kepalanya, “Setahuku mereka diam saja dan tidak melakukan apa-apa.”
Sang Maha Guru tersenyum lagi, lalu mulailah ia berpesan :
“Jadilah seperti pohon. Perhatikanlah, ia diam tak banyak bicara hingga kamu tidak menyadari apa yang dilakukannya. Padahal ia selalu memberimu udara untuk dihisap. Lihatlah bagaimana ia memberi udara pada semua orang tanpa memandang apakah kamu miskin atau kaya. Atau apakah kamu lahir dari kelompok etnik tertentu. Ia memberi udara bagi semua orang tanpa memandang agama, ras dan suku bangsa. Apakah kamu bersedia membagi ilmumu untuk semua orang tanpa pilih kasih?”
“Jadilah seperti pohon. Ia tidak banyak berbicara tapi terus bertumbuh setiap hari. Jika sudah tidak bertumbuh maka ia akan mati. Apakah dirimu merasa terus bertumbuh?”
“Jadi seperti pohon. Apabila sudah besar, ia akan menaungi siapa saja yang berada dibawahnya, tak peduli itu manusia atau hewan. Apakah kamu merasa dirimu sudah semakin besar dan menaungi apa saja yang berada dibawahmu?”
“Jadilah seperti pohon yang selalu menyejukkan, memperindah dan mempercantik tempat-tempat gersang. Apakah kamu merasa kehadiranmu telah membuat hati-hati yang gersang menjadi sejuk dan indah kembali?”
“Jadilah seperti pohon. Satu-satu kehidupan yang tumbuh ke atas dan berhasil melawan kuatnya gravitasi Bumi. Apakah kamu merasa dirimu telah berhasil melawan kuatnya godaan dan tantangan akan terus bertumbuh menjadi manusia dan guru yang lebih baik dari hari ke hari?”
“Jadilah seperti pohon yang menyuburkan tanah di sekitarnya dan menyimpan air di bawahnya untuk kehidupan semua makhluk hidup lainnya. Apakah kamu sudah menyuburkan lingkungan sekitarmu?”
“Jadilah seperti pohon, Seandainya sudah mati pun tubuhnya masih berguna bagi kesuburan tanah atau menjadi bahan baku tempat tinggal yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.”
Menurut Anda, apakah kita sudah lebih baik dari pohon?

SAHABAT
salam dari kami di samudra cinta SUFI AKHIR ZAMAN ( BB 21B8AFC9)
mohon maaf lahir bathin

Mulai Dari Diri Sendiri

Ustadz Muhammad Budiono Al Amin
Ustadz Muhammad Budiono Al Amin

Termasuk diantara jalan keselamatan adalah sibuk memperbaiki diri dan meninggalkan hal-hal yang tidak penting bagi diri kita.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang mengenali jati dirinya sendiri maka dia akan menyibukkan diri dengan memperbaikinya daripada sibuk mengurusi aib-aib orang lain. Barangsiapa yang mengenal kedudukan Rabbnya niscaya dia akan sibuk dalam pengabdian kepada-Nya daripada memperturutkan segala keinginan hawa nafsunya.” (lihat al-Fawa’id, hal. 56)

Abdullah ibnu Mubarak rahimahullah berkata, “Jika seorang telah mengenali kadar dirinya sendiri [hawa nafsu] niscaya dia akan memandang dirinya -bisa jadi- jauh lebih hina daripada seekor anjing.” (lihat Min A’lam as-Salaf [2/29])

al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Hendaknya kamu disibukkan dengan memperbaiki dirimu, janganlah kamu sibuk membicarakan orang lain. Barangsiapa yang senantiasa disibukkan dengan membicarakan orang lain maka sungguh dia telah terpedaya.” (lihat ar-Risalah al-Mughniyah, hal. 38)

al-Hasan rahimahullah mengatakan, “Salah satu tanda bahwa Allah mulai berpaling dari seorang hamba adalah tatkala dijadikan dia tersibukkan dalam hal-hal yang tidak penting bagi dirinya.” (lihat ar-Risalah al-Mughniyah, hal. 62).

Yunus bin ‘Ubaid rahimahullah berkata, “Sungguh aku pernah menghitung-hitung seratus sifat kebaikan dan aku merasa bahwa pada diriku tidak ada satu pun darinya.” (lihat Muhasabat an-Nafs wa al-Izra’ ‘alaiha, hal. 80)

Syaqiq al-Balkhi rahimahullah berkata, “Bersahabatlah dengan manusia sebagaimana kamu bergaul dengan api. Ambillah manfaat darinya dan berhati-hatilah jangan sampai dia membakar dirimu.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 475)

Syaikh Abdurrahman bin Qasim rahimahullah berkata, “Amal adalah buah dari ilmu. Ilmu dicari untuk menuju sesuatu yang lain -yaitu amal- sebagaimana halnya sebatang pohon. Adapun amal laksana buahnya. Oleh sebab itu harus mengamalkan agama Islam, karena orang yang memiliki ilmu namun tidak beramal lebih jelek daripada orang yang bodoh.” (lihat Hasyiyah Tsalatsah al-Ushul, hal. 12)

Sahl bin Abdullah rahimahullah berkata, “Seorang mukmin adalah orang yang senantiasa merasa diawasi Allah, mengevaluasi dirinya, dan membekali diri untuk menyambut akhiratnya.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 711)

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang tidak khawatir tertimpa kemunafikan maka dia adalah orang munafik.” (lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1218)

al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Wahai orang yang malang. Engkau berbuat buruk sementara engkau memandang dirimu sebagai orang yang berbuat kebaikan. Engkau adalah orang yang bodoh sementara engkau justru menilai dirimu sebagai orang berilmu. Engkau kikir sementara itu engkau mengira dirimu orang yang pemurah. Engkau dungu sementara itu engkau melihat dirimu cerdas. Ajalmu sangatlah pendek, sedangkan angan-anganmu sangatlah panjang.” (lihat Aina Nahnu min Akhlaq as-Salaf, hal. 15)

Qabishah bin Qais al-Anbari berkata: adh-Dhahhak bin Muzahim apabila menemui waktu sore menangis, maka ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Beliau menjawab, “Aku tidak tahu, adakah diantara amalku hari ini yang terangkat naik/diterima Allah.” (lihat Aina Nahnu min Akhlaq as-Salaf, hal. 18)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Sungguh aku tidak senang apabila melihat ada orang yang menganggur; yaitu dia tidak sedang melakukan amal untuk dunianya dan tidak juga beramal untuk akhirat.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 560)

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah berkata: Sungguh membuatku kagum ucapan salah seorang penggerak ishlah/perbaikan pada masa kini. Beliau mengatakan: “Tegakkanlah daulah/pemerintahan Islam di dalam hati kalian, niscaya ia akan tegak di atas bumi kalian.” (lihat Ma’alim al-Manhaj as-Salafi fi at-Taghyir, hal. 24)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Carilah hatimu pada tiga tempat; ketika mendengarkan bacaan al-Qur’an, pada saat berada di majelis-majelis dzikir/ilmu, dan saat-saat bersendirian. Apabila kamu tidak berhasil menemukannya pada tempat-tempat ini, maka mohonlah kepada Allah untuk mengaruniakan hati kepadamu, karena sesungguhnya kamu sudah tidak memiliki hati.” (lihat al-Fawa’id, hal. 143)

Hudzaifah al-Mar’asyi rahimahullah berkata, “Tidaklah seorang tertimpa musibah yang lebih berat daripada kerasnya hati.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 661)

Hati yang sehat dan sempurna memiliki dua karakter utama. Pertama; kesempurnaan ilmu, pengetahuan, dan keyakinan yang tertancap di dalam hatinya. Kedua; kesempurnaan kehendak hatinya terhadap segala perkara yang dicintai dan diridhai Allah ta’ala. Dengan kata lain, hatinya senantiasa menginginkan kebaikan apapun yang dikehendaki oleh Allah bagi hamba-Nya. Kedua karakter ini akan berpadu dan melahirkan profil hati yang bersih, yaitu hati yang mengenali kebenaran dan mengikutinya, serta mengenali kebatilan dan meninggalkannya. Orang yang ilmunya dipenuhi dengan syubhat/kerancuan dan keragu-raguan, itu artinya dia telah kehilangan karakter yang pertama. Adapun orang yang keinginan dan cita-citanya selalu mengekor kepada hawa nafsu dan syahwat, maka dia telah kehilangan karakter yang kedua. Seseorang bisa tertimpa salah satu perusak hati ini, atau bahkan -yang lebih mengerikan lagi- tatkala keduanya bersama-sama menggerogoti kehidupan hatinya (lihat al-Qawa’id al-Hisan, hal. 86)

Dikisahkan, ada seorang tukang kisah mengadu kepada Muhammad bin Wasi’. Dia berkata, “Mengapa aku tidak melihat hati yang menjadi khusyu’, mata yang mencucurkan air mata, dan kulit yang bergetar?”. Maka Muhammad menjawab, “Wahai fulan, tidaklah aku pandang orang-orang itu seperti itu kecuali diakibatkan apa yang ada pada dirimu. Karena sesungguhnya dzikir/nasehat jika keluar dari hati [yang jernih] niscaya akan meresap ke dalam hati pula.” (lihat Aina Nahnu min Akhlaq as-Salaf, hal. 12)

Syahr bin Hausyab rahimahullah berkata, “Jika seorang menuturkan pembicaraan kepada suatu kaum niscaya pembicaraannya akan meresap ke dalam hati mereka sebagaimana sejauh mana pembicaraan [nasihat] itu bisa teresap ke dalam hatinya.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 660)

al-Hasan bin Shalih rahimahullah berkata, “Sesungguhnya setan benar-benar akan membukakan sembilan puluh sembilan pintu kebaikan dalam rangka menyeret seorang hamba menuju sebuah pintu keburukan.” (lihatal-Muntaqa an-Nafis min Talbis Iblis, hal. 63)

Ibrahim at-Taimi rahimahullah berkata, “Tidaklah aku menghadapkan/menguji ucapanku kepada amal yang aku lakukan, melainkan aku takut kalau aku menjadi orang yang didustakan.” (lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1167)

al-Hasan rahimahullah berkata, “Melakukan kebaikan/ketaatan memunculkan cahaya bagi hati dan kekuatan bagi badan. Adapun melakukan kejelekan/dosa melahirkan kegelapan di dalam hati dan kelemahan badan.” (lihat Tafsir Ibnu Rajab, Jilid 2 hal. 135)

Bisyr bin al-Harits rahimahullah mengatakan, “Betapa banyak orang yang sudah meninggal akan tetapi hati menjadi hidup dengan mengingat mereka. Dan betapa banyak orang yang masih hidup namun membuat hati menjadi mati dengan melihat mereka.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 468)

Ibrahim bin Syaiban rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang menjaga untuk dirinya waktu-waktu yang dia jalani sehingga tidak tersia-siakan dalam hal yang tidak mendatangkan keridhaan Allah padanya niscaya Allah akan menjaga agama dan dunianya.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i [2/29])

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Aku terhalang dari melakukan sholat malam selama lima bulan gara-gara sebuah dosa yang pernah aku lakukan.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 361)

Bilal bin Sa’id rahimahullah berkata, “Janganlah kamu melihat kecilnya kesalahan, akan tetapi lihatlah kepada siapa kamu berbuat durhaka.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 362)

Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah berkata, “Aku mencintai orang-orang salih sementara aku bukanlah termasuk diantara mereka. Dan aku membenci orang-orang jahat sementara aku lebih jelek daripada mereka.” (lihat Shalahul Ummah fi ‘Uluwwil Himmah [1/133])

 

Nasehat Dari K H Muhammad Arifin Ilham

K.H. Muhammad Arifin Ilham

https://dzikirattauhid.wordpress.com >>Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

Jazakumullah, al ‘ulama al ahibbaa’ fillah..

Arifin mohon maaf lahir batin.

Ikhwah fillah

Persoalan terbesar bagi umat Islam saat ini yang mengalami kekalahan di semua lini, politik, ekonomi, sosial, budaya, militer, bahkan semua aspek kehidupan karena umat Islam telah meninggalkan Islam, meninggalkan Al-Qur’an dan Sunnah, dan sampai puncaknya adalah krisis ukhuwah. Bukan hanya bagi umat Islam, bahkan bagi ulamanya sendiri.

Ikhwah fillah

Kenapa kita tidak punya haibah? prestise di dunia, di negeri sendiri? Pada lingkungan kita sendiri kita tidak punya haibah, karena kita tidak punya al-quwwah, kekuatan. Kenapa tidak punya al-quwwah? karena tidak punya wahdah, kita sejujurnya belum bersatu, tahsabuhum jami’an wa qulubuhum syatta… (Al-Hasyr, 59: 14)

Kesannya saja, retorikanya kita bersatu, sebenarnya kita masih ingin eksis dengan jati diri masing-masing, mazhab masing-masing, pendapat, kelompok, organisasi masing-masing.

Kenapa kita gak punya wahdah? ya… karena kita mengalami yang disebut dengan ukhuwah, saling cinta karena Allah, saling tolong karena Allah, saling menghargai karena Allah, saling mendo’akan karena Allah, saling mendukung karena Allah, saling menutupi aib karena Allah.

Kadang tidak perlu duduk bersama, tapi hati bersama itu jauh lebih utama. Dan tentu jauh lebih afdhal duduk bersama dan hati kita bersama seperti shaf shalat berjama’ah.

Nah… kenapa tidak mengalami kekuatan ukhuwah itu? karena kita mengalami krisis iman. Allah, ridha-Nya, rahmat-Nya, ampunan-Nya, hidayah-Nya, berkah-Nya, Rasul-Nya, akhirat-Nya bukan menjadi tujuan dan orientasi dalam setiap aktifitas kita.

Maaf, mungkin ini terlalu kasar… Bahasanya agama, tapi hatinya dunia,

…وَعَصَيْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا أَرَاكُمْ مَا تُحِبُّونَ…

(Ali ‘Imran, 3: 152)

Kelumpuhan terjadi bagi umat Islam dan terutama para juru dakwah adalah karena mereka lebih melihat ghanimah ketimbang ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ikhwah…

Kalau Allah dan Rasul dan akhirat menjadi tujuan dan orientasi dalam setiap harakah dakwah kita, maka kita akan mengedepankan, mengutamakan dakwah, itu yang menjadi skala prioritas, main goal, dalam semua aktifitas kita, dakwah, dakwah, dakwah, tanpa diundangpun dakwah. Kita menunggu undangan, baru dakwah.

Ulama yang terbaik itu ulama air hujan, yang menghujani siapa pun, minimal ulama mata air yang orang datang rindu kepadanya. Jangan jadi air pam, air pam itu kalau gak diundang, gak keluar dia, kalau gak dibayar gak keluar dia, gak tsiqah dalam dakwah, memilah milih dalam dakwah, akhirnya retorika-retorika saja, intinya dia mencari duit.

Ini ngamen ya ikhwah, atau menjadi juru dakwah air comberan, munafik, dia berbuat maksiat.

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

(Ash-Shaff, 61: 3)

Nah… dakwah kita utamakan, kita berkumpul karena kita mengutamakan dakwah, kita bisa bersama karena mengutamakan dakwah. Jadi benang tasbih walaupun bijiannya warna warni, kalau benangnya adalah dakwah, kita akan bisa bersama ya ikhwah.

Islam bisa berkembang karena dakwah, Rasul menyebarkan dakwah, lalu dilanjutkan para sahabat. Sahabat wafat, dilanjutkan tabi’ut tabiin, lalu salafus shalih. Dan kita bisa begini pun karena dakwah, maka dakwahlah utamakan.

Dimulai dakwah pada diri sendiri, fardiyah, ahliyah, keluarga kita, lalu sahabat-sahabat kita, lalu khususiah orang-orang penting, lalu ijtima’iyah, tabligh, ta’lim, kemudian ‘umumiyah, siapapun didakwahi tanpa merasa paling suci.

Kemudian kalau dakwah yang menjadi prioritas, maka yang kedua adalah ukhuwah. Nah… buahnya dari orientasi dakwah itu ukhuwah. Banyak kita berbeda paham dengan kawan-kawan.

Misalnya Arifin, ada yang membid’ahkan zikir, Arifin sayang kepada kawan-kawan yang membid’ahkan zikir. Tidak ada masalah, tidak penting perbedaan itu, yang penting ukhuwahnya, yang penting dakwahnya.

Hanya karena perbedaan qunut… Ndak penting perbedaan itu, yang penting dakwahnya, ukhuwahnya, ndak penting zikir berjama’ah itu, yang penting ummat itu bertaubat dan sebagainya, itu yang penting.

Jadi hal-hal yang kecil yang masih persoalan furu’iyah bukan ushuliyah, kecuali yang sudah difatwakan jelas, bayan, clear, oleh Majelis Ulama Indonesia. Ada yang kita bersama, ada yang tidak bisa kita bersama.

Kemudian yang ketiga.. kalau sudah dakwah yang menjadi prioritas maka ukhuwah. Kalau “iyyaka na’budu wa iyyaka nast’ain” kalau Allah menjadi tujuan kita “na’budu”, kami beribadah bersama, kami mohon pertolongan kepada Allah, kami.. bukan aku.. kami… ‘aku’, ‘kamu’.. lebur menjadi ‘kami’. “shaffan ka annahum bunyaanun marshush” (Ash-Shaff, 61: 4).

Nah, kemudian yang ketiga: maslahah. Kalau sudah ukhuwah, maka ke-maslahah-nya yang dikedepankan. Maslahahnya apa?

Kita di samping masjid Az-Zikra ada mushalla yang berbeda, yang mereka tidak sependapat dengan speaker (aspek) anti-speaker. Mushallanya hancur, bocor, kita bangunkan. Subhanallah… gak ada masalah speaker nggak speaker, maslahahnya untuk ummat biar bisa shalat di mushalla itu. Ya… Allah… ini kemaslahahan yang harus dikedepankan setelah ukhuwah dan prioritas dakwah.

Maka Arifin bahagia sekali, walaupun keadaan hanya bisa melewati ini, tapi Arifin menyayangi semua, ayah, ikhwah fillah, kawan-kawan, juru-juru dakwah.

Ini saatnya bukan lagi retorika-retorikaan, bukan main-main lagi dakwah, bukan lagi eksis-eksis sendirian lagi, ndak perlu lagilah dengan ge-er dengan pujian, ndak perlu lagi sakit hati dengan hinaan.

Saatnya kita menjadi teladan bagi ummat, jadi mata air, jadi cahaya, apa yang di hati itu yang difikirkan, apa yang difikirkan itu yang diucapkan, apa yang diucapkan itu diamalkan, istiqamah, tsiqah, lahir batin ta’at kepada Allah jalla jalaluhu, figur teladan bagi ummat, tidak main-main, tidak lagi menjual-jual, main-main kata, penuh dengan gaya-gaya.

Tidak perlu lagi takut dengan caci maki, hinaan, gosip. Dakwah liyuhiqqal haqqa wayubthilal bathila walau karihal mujrimun… (Al-Anfaal, 8: 8). Keniscayaan akan dicaci maki oleh orang mujrimun itu.

Fitnah itu memang menyakitkan, kotoran, tapi bagi orang beriman dia bisa olah menjadi pupuk yang menyenangkan, pupuk yang menyuburkan keimanannya.

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

(Al Furqan, 25: 63)

Ketahuilah ya ikhwah, yang paling pantas berdakwah itu siapa? Hamba Allah yang istiqamah, yang tidak main-main dengan kata-katanya, bukannya surat Fushshilat (menerangkan),

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا…

(Fushshilat, 41: 30)

Lihat setelah itu,

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

(Fushshilat, 41: 33)

Mereka yang istiqamah lalu mereka berdakwah,

Ikhwah, al lughah al madzuqah, bahasa itu rasa, ummat itu bisa merasakan mana main-main kata, mana yang serius dalam berdakwah, mana yang istiqamah, mana yang dalam setiap kata-katanya yang benar-benar tulus mencintai ummat.

Maaf ikhwah, kalau Arifin menyampaikan ini. Inilah keadaan sekarang, mudah-mudahan Arifin dan semua ikhwah, Allah bersamakan dalam ridha-Nya, dalam rahmat-Nya, dalam ampunan-Nya, dan hidayah-Nya, dalam berkah-Nya, dalam harakah dakwah-Nya. Kita bersama walaupun tidak harus duduk kita bersama, suatu saat kita duduk bersama lalu kita bersama-sama.

Puncak perjuangan kita adalah tegaknya syari’at Allah di negeri yang kita cintai ini dan tegaknya khilafah Islamiyah.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أَشْهَدُ أَنْ لا إِلهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتْوبُ إِلَيْكَ

Banyak salah Arifin, uhibbukum fillah.

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Sebarkan!

Raih amal shalih, sebarkan informasi ini…

Persiapkan Diri Untuk Suatu Perubahan, Kuncinya Ialah Perbaiki Diri, Perbaiki Ibadah, Perbanyak Dzikir dan Sedekah (Ustadz Muhammad Budiono Al Amin)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 553 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: