Sedekah Rp 50.000 Yuk….????

Santri bersama Ustadz Mhd Budiono Al Amin
Santri bersama Ustadz Mhd Budiono Al Amin

ASSALAMU’ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABARAKATUH
“Dukung Gerakan Sedekah Rp 50.000 (Lima Puluh Ribu Rupiah)

untuk PONDOK PESANTREN / TAHFIDZ / MADRASAH / RUMAH YATIM.”

silahkan di unduh dan mohon disebarkan http://www.4shared.com/mp3/NMMVhzMw/Waqof__1_.html
http://www.4shared.com/mp3/FjtsXKUp/Dzikir_akbar_bersama_Ustadz_Mu.html?
http://www.4shared.com/music/lYjabbQt/dzikir_akbar_muharam_bersama_U.html
http://youtube.com/budiono67
http://dzikirattauhid.wordpress.com/

BANK SUMUT Cab Tembung Rek 109.02.04.014299-9 an. Yayasan As SyahidahTauhidspanduk-dukung-sedekah.jpg
Bank BCA KCP HM YAMIN (medan) Rek. 8115060801 an. Budiono,
Bank BRI Cab. Tembung-Medan Rek. 3344-01-030645-53-6 an. Budiono.
KONFIRMASI ke Hp.0813 9625 6583 , bbm 331d819e or inbox
KETIK: NAMA(spasi)KOTA(spasi)TUJUAN BANK(spasi)BESAR DONASI.

jazakullah khair. Mhn Do’anya .afwan
(hati2 dengn orng yg memanfa’atkan program kami, DATA BANK & nomor HP,Pin bb hny yg Tercantum diatas)

Bergabunglah bersama kami untuk menjadi RPS(Relawan Penggalang Sedekah) untuk Pendirian Pondok Pesantren/Rumah Yatim/Pondok Rehabilitas Napi dan Pecandu Narkoba AtTauhid
Hubungi Ustadz Muhammad Budiono Al Amin langsung di Hp 0812 6051 7773, bbm 331d819e

Lihat seluruh video kami di http://youtube.com/budiono67
atau kunjungi kami di http://dzikirattauhid.wordpress.com/
www.facebook.com/groups/dukungsedekah50rb

Sebening Mata Air

Dari Abu Hurayrah, bahwa Rasulullah bersabda, ‘Jika manusia mati maka terputuslah amalnya, kecuali tiga: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang mendoakannya’ (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Umamah, bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Ada 4 golongan yang senantiasa mengalir pahala kepada mereka setelah meninggal dunia, yaitu: orang yang berjaga untuk berjihad di jalan Allah, orang yang mengajarkan ilmu, orang yang berrsedekah jariah, dan orang yang meninggalkan anak shalih yang berdoa untuknya’. (Riwayat Ahmad)

Dari Jarir bin Abdullah secara marfu’, bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Barangsiapa yang merintis suatu tradisi yang baik, maka ia mendapatkan pahala rintisan tersebut dan setelah ia meninggal dunia ia mendapatkan pula pahala orang yang melanjutkan tradisi baik tersebut tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang melanjutkan tradisi tersebut. Barangsiapa yang merintis suatu tradisi yang jelek, maka ia maka ia mendapatkan dosa rintisan tersebut dan setelah ia meninggal dunia ia mendapatkan pula dosa orang yang melanjutkan tradisi jelek tersebut tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang melanjutkan tradisi tersebut’ (Riwayat Muslim)

Dari Abu Sa’id al-Khudry secara marfu’, Rasulullah saw bersabda, ‘Barangsiapa yang mengajarkan satu ayat dari Kitabullah atau satu pembahasan dari suatu ilmu, maka akan mengembangkan pahalanya sampai hari Kiamat’ (Riwayat Ibnu Asakir)

Abu Hurayrah menuturkan bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya di antara amal kebaikan orang beriman yang akan mengalir kepadanya setelah kematianny adalah: ilmu yang disebarluaskannya, anak shalih yang ditinggalkannya, mushaf al-Quran yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah singgah yang dibangunnya untuk ibnu sabil, sungai yang dialirkannya, sedekah yang dikeluarkannya semasa sehatnya. Semua itu akan mengalir baginya setelah kematiannya’ (Riwayat Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah)

Anas bin Malik menuturkan bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Ada 7 hal yang pahalanya terus mengalir kepada seorang hamba setelah kematiannya dan ia berada di kuburnya, yaitu: orang yang mengajarkan ilmu, mengalirkan sungai, menggali/membuat sumur, menanam pohon kurma, membangun masjid, mewariskan mushaf al-Quran, dan meninggalkan anak yang memohonkan ampunan baginya setelah kematiannya’ (Riwayat al-Bazzar dan Abu Nu’aim)

Tsauban menuturkan bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Dulu aku pernah melarang kalian melakukan ziarah kubur, maka sekarang lakukan ziarah kubur. Jadikan ziarah kubur kalian itu sebagai kesempatan untuk mendoakan mereka sekaligus permohonan ampunan bagi mereka’ (Riwayat at-Thabrani)

 

DENGARLAH…..!!!

Guru saya selalu menyampaikan pesan-pesan moral kepada murid-muridnya lewat cerita pendek yang bersahaja dan mudah untuk dipahami. Disamping cerita pendek, Beliau juga menyampaikan tamsilan-tamsilan tentang hakikat dan makrifat dalam bentuk yang sederhana sehingga bisa diterima oleh semua kalangan baik murid lama maupun yang baru belajar thariqat. Salah satu cerita yang sering Beliau sampaikan setelah zikir bersama (tawajuh) adalah Ilmu Tebu
  • Majelis Dzikir AtTauhid Sumut“Siapa diantara kalian yang belum pernah melihat tebu?” begitulah Beliau membuka cerita setelah terlebih dahulu menyampaikan puji-pujian kepada Allah SWT dan shalawat kepada Nabi SAW beserta para sahabat dan pengikut-pengikutnya serta kepada seluruh auliya-auliya akbar Thariqat Nadsyabandi. Beliau selalu mengingatkan kami bahwa para Nabi dan para Wali itu tidak pernah mati, mereka hanya berlindung disisi Allah SWT.

    Kemudian Beliau bertanya lagi,”Kalau kalian perhatikan tebu, bagian mana yang paling manis, ujungnya atau pangkalnya?”. Serentak murid-murid Beliau menjawab, “Pangkalnya Guru!”.

    “Benar, tebu itu yang manis adalah pangkalnya semakin ke ujung maka akan semakin hambar. Coba kalian perhatian tebu apabila ditiup angin. Bagian yang bergoyang mengikuti arah angin adalah pucuknya. Kalau angin datang dari timur maka dia akan menghadap kebarat begitu juga sebaliknya kalau angin datang dari utara maka ujung tebu akan mengikuti arah angin menuju ke selatan. Bagian ujungnya itu tidak ada pendirian, terombang ambing menurut keadaan.”

    Guru diam sejenak kemudian Beliau kembali melanjutkan ceramahnya, “Begitulah gambaran orang yang belum menemukan seorang pembimbing rohani, dia akan terus menerus mencari kebenaran tanpa batas waktu padahal umur yang diberikan Tuhan hanya sebentar. Apabila didengar ada ulama A disana keramat maka dia akan ke ulama A, besoknya didengar lagi ada kiayi Z sangat hebat maka dia mendatangi kiayi Z. Orang seperti ini adalah ibarat sama dengan buih dilautan yang akan mengikuti arus laut

Gerakan Peduli Ummat

300x150copy hp

Nomor : 037/Pan-MTZA/SUMUT/VI/2014                                                                        Bandar Klippa, 01 April 2014
Lampiran : 1 ( satu ) berkas proposal
Perihal : Bantuan Dana / Sponsorship

Yth,
Bapak / Ibu : …………………………………….
Di
T e m p a t
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Segala puji hanya bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat hingga saat ini. Teriring Salam dan Do’a semoga kita senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT. Aamiin
Dalam rangkah Memperingati Isra’ Wal Mi’raj Nabi Muhammad Saw 1435 H kami akan melaksanakan kegiatan DZIKIR AKBAR dan di isi dengan Bakti Sosial berupa Khitanan Massal dan Penyantunan oleh Majelis Ta’lim – Dzikir At Tauhid, yang Insyah Allah akan dilaksanakan pada:
Hari,Tanggal : Minggu & Senin, 25 & 26 Mei 2014
Tempat : Masjid Al Ma’wa Pasar 6 Dusun v Desa Bandar Klippa,Kec Ps Tuan.
Pukul : 08.00 wib s.d Selesai
Mengingat kegiatan ini sangat penting demi kemajuan Ummat Islam, maka untuk suksesnya penyelenggaraan ini dibutuhkan Dana yang cukup besar. Sehubungan dengan hal tersebut kami mohon kepada Bapak / Ibu untuk dapat berpartisipasi menjadi Donatur / Sponsorship dalam kegiatan ini.
Demikian permohonan ini kami sampaikan, sebagai bahan pertimbangan kami lampirkan proposal kegiatan. Atas perhatian dan partisipasi Bapak/Ibu, kami ucapkan terima kasih.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami ucapkan kepada Alloh SWT, karena berkat Taufiq dan Hidayah-Nya serta pertolongan-Nya kami dapat menyusun proposal ini. Sholawat dan salam-Nya mudah-mudahan selalu tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad SAW, keluarganya, shohabatnya dan kepada tabi`it-tabi`innya.
Dalam proposal ini, kami membahas tentang pentingnya peranan Islam dalam mensukseskan pembangunan Nasional yang Religius. Sehingga tidak ada waktu yang terbuang sia-sia, dan hal ini sangat relefan dengan firman Alloh dalam Al-Quran Surat Al-`Ashr. Maka dari itu Kami bermaksud untuk melaksanakan GERAKAN “ PEDULI UMMAT “ Bersama MAJELIS TA’LIM – DZIKIR AT TAUHID. Kami sangat mengharapkan sekali Uluran dan Bantuan dari semua pihak khususnya para Donatur yang akan membantu terhadap kelancaran kegiatan kami.
Dalam penyusunan proposal ini, penyusun menyadari jauh dari kesempurnaan baik dalam penempatan kata maupun cara penyusunannya, untuk itu penyusun menunggu saran atau koreksi dari semua pihak untuk perbaikan dimasa yang akan datang.
Atas segala hormat kami ucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang bersedia membantu demi kelancaran kegiatan tersebut. Semoga segala bantuan yang diberikan mendapat imbalan dari Alloh SWT
Bandar Klippa, 01 April 2014
Penyusun

I. PENDAHULUAN
Perkembangan dan moderenisasi zaman adalah suatu hal yang tidak bisa kita hindarkan. Arus globalisasi yang semakin deras menuntut Ummat Islam berlari kencang mengikuti perkembangaan zaman yang semakin pesat.
Perkembangan zaman yang begitu pesat membuat Ummat Islam harus benar-benar pandai dalam memilih dan memilah mana yang positif dan mana yang negatif agar tidak terjadi degradasi moral,akhlak dan nilai – nilai Agama.
Untuk itulah diperlukan kegiatan-kegiatan positif dalam menyalurkan aspirasi-aspirasi, hoby, bakat dan lain sebagainya, agar ummat mampu mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya dan terhindar dari degradasi moral, akhlak dan nilai-nilai Agama.
Untuk menjembatani hal itu diperlukan suatu wadah sebagai motor yang bisa mendrive dan membawa ummat Islam ke arah yang positif dan tetap memegang teguh nilai-nilai agama sehingga menjadikan dirinya sebagai ummat yang berakhlak mulia dan menjunjung tinggi nilai-nilai Agama dan menjaga Moral Bangsa.Kami dari Keluarga Besar Majelis Ta’lim – Dzikir At Tauhid Sumut bermaksud mengadakan kegiatan Gerakan “ Peduli Ummat “ bersama Majelis Ta’lim – Dzikir At Tauhid.

 

 
II. DASAR PEMIKIRAN
1. Berdasar kepada program pemerintah untuk turut serta membangun sumberdaya manusia yang berakhlak mulia.
2. Sebagai sarana untuk memelihara kemuliaan Agama Islam
3. Gerakan “Peduli Ummat”
4. Rasa peduli terhadap sesama saudara – saudara, khususnya terhadap kaum Dhu’afa, Yatim
5. Mengajak Ummat Islam untuk lebih membudayakan Kesehatan
6. Membudayakan kepada masyarakat khususnya ummat Islam agar saling berbagi dan peduli terhadap anak – anak bangsa.
7. Rasa peduli kami untuk membangun SDA dan SDM yang berkwalitas, berakhlakul karimah dan bertaqwa
8. Membudayakan Dzikir ditengah masyarakat Islam

III. MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud dan tujuan dari kegiatan ini adalah :
1. Menjalin Tali Silahturahmi
2. Memakmurkan Syi’ar Islam
3. Turut menjaga dan mengembangkan potensi Ummat yang berpegang teguh pada nilai-nilai agama agar menjadi Ummat yang berbakti kepada agama dan bangsa.
4. Membangun Rasa peduli terhadap orang – orang yang tidak mampu
5. Menggerakan Gemar bersedekah, mengaji dan berdzikir
6. Berusaha dan berikhtiar untuk menghilangkan penyakit Lahir & Bathin
7. Agar Ummat menjaga kesehatan
8. Ikut serta membantu program pemerintah membangun pendidikan
IV. TEMA
“Persiapkan Diri Untuk Suatu Perubahan, Kuncinya Ialah Perbaiki Diri, Perbaiki Hidup, Perbaiki Ibadah, Perbanyak Dzikir dan Perbanyak Sedekah ”
V. ANGGARAN BIAYA

1 Mubaligh = Rp 500.000
2 Sounds System = Rp 500.000
3 Qori’ = Rp 200.000
4 Tenda + Pentas = Rp 800.000
5 Medikal 50 Jiwa x Rp 150.000 = Rp 7.500.000
6 Santunan 50 Jiwa x Rp 50.000 = Rp 2.500.000
7 Sarung + Lobe 50 pcs x Rp 40.000 = Rp 2.000.000
8 Konsumsi = Rp 4.000.000
9 Administrasi – Rp 200.000
10 Tranportasi =Rp 300.000
11 Undangan = Rp 200.000
12 Bendera + Spanduk 20 pcs x Rp 100.000  =Rp 2.000.000
13 Akomudasi = Rp 1.000.000
14 Shooting Video + Photo = Rp 1.000.000
15 Biaya Taktis = Rp 1.000.000
J U M L A H Rp 23.700.000
Terbilang : Dua Puluh Tiga Juta Tuju Ratus Ribu Rupiah

 
VI. TARGET DANA
Anggaran biaya akan di peroleh dari :
1. Intansi Pemerintah
2. Pengurus dan Anggota Assosiasi Pemuda Gerakan Peduli Ummat dan Majelis Dzikir At Tauhid
3. Simpatisan
4. Donatur
VII. WAKTU PELAKSANAAN
Waktu pelaksanaan :
1. Khitanan Massal : Tgl 25 Mei 2014, Hari Minggu Pkl 08.00 wib
2. Dzikir Akbar & Penyantunan : Tgl 26 Mei 2014, Hari Senin Malam Selasa Pkl 20.00 wib

IX. PENUTUP
Membina dan mengembangkan potensi generasi muda adalah suatu keharusan, agar terbentuk generasi muda yang berakhlak mulia,menjunjung tinggi nilai-nilai agama sehingga menjadi generasi muda yang bermoral dan berguna bagi agama bangsa dan negara. Oleh karena itu melalui kegiatan yang akan kami laksanakan mudah-mudahan mampu membentuk generasi muda yang dinamis. Melalui kegiatan ini pula kami memohon kepada semua pihak untuk membantu mensukseskan kegiatan yang akan kami laksanakan.
Partisipasi dari semua kalangan sangat kami harapkan, dan mudah-mudahan apa yang Bapak / Ibu berikan baik moral maupun materil dibalas oleh Alloh SWT dengan balasan yang berlipat ganda. Amin..

 

FOTO KEGIATAN BAKTI SOSIAL & DZIKIR AKBAR YANG PERNAH DILAKSANAKAN
OLEH MAJELIS DZIKIR AT TAUHID

Yatim Di khitan

Kediatan Khitanan Massal Yatim & Dhu'afa oleh MAJELIS TA'LIM - DZIKIR AT TAUHID SUMUT
Kediatan Khitanan Massal Yatim & Dhu’afa oleh MAJELIS TA’LIM – DZIKIR AT TAUHID SUMUT

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

dzikir akbar1

 

 

 

 

 

 

 

 

MT IBU-IBU SEKECAMATAN PERCUT SEI TUAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ustadz Muhammad Budiono Al Amin
Ustadz Muhammad Budiono Al Amin

Bicara Yang Benar Ya?

Nabi Saw,”Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, hendaklah ia berbicara yang baik-baik atau diamlah” (HR. Bukhari)

Imam Syafi’i menjelaskan bahwa maksud hadits ini adalah apabila seseorang hendak berkata hendaklah ia berpikir terlebih dahulu.
Jika diperkirakan perkataannya tidak akan membawa mudharat, maka silahkan dia berbicara. Akan tetapi, jika diperkirakan perkataannya itu akan membawa mudharat atau ragu apakah membawa mudharat atau tidak, maka hendaknya dia tidak usah berbicara

Rasul Saw bersabda, “ Kebanyakan dosa anak Adam karena lidahnya. (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)
dalam hadits shahih riwayat Imam Ahmad dan Imam Tirmidzi disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda kepada Mu’adz ra. sambil memegang lidah, “Tahanlah ini!” Mu’adz berkata, “Apakah kami akan disiksa karena apa yang kami ucapkan, wahai Rasulullah?” “Ibumu akan kehilangan dirimu wahai Muadz. Tidaklah wajah orang-orang itu dilemparkan ke dalam api neraka melainkan karena hasil perbuatan lidah mereka.” (HR Tirmidzi dan Ahmad)

Namun begitu, lidah juga merupakan sarana menuju kebaikan dan bisa mengantarkan pemiliknya ke pintu surga. Maka, alangkah damainya orang yang mempergunakan lidahnya untuk senantiasa berzikir, memohon ampun, memuji, bertasbih, bersyukur, dan bertobat kepada Allah dengan lidahnya. Dan alangkah malangnya orang yang mengoyak kehormatan manusia, menodai kesucian, serta mendongkel nilai-nilai kebenaran dengan lidahnya .

marilah kita jaga Lidah kita dari hal-hal yang dilarang Allah, dari memaki, berkata-kata kasar dan menyakitkan hati, ghibah dll.

Ya Allah aku memohon kepada-Mu, karuniakanlah kami dan anak-anak keturunan kami lidah-lidah yang jujur dan terjaga dari segala yang dilarang Allah dan RasulNya. Aamiin

SUFI AGUNG IBRAHIM BIN ADZAM

mintaDia adalah raja di Balkh satu wilayah yang masuk dalam kerajaan Khurasan, menggantikan ayahnya yang baru mangkat. Sebagaimana umumnya kehidupan para raja, Ibrahim bin Adham juga bergelimang kemewahan. Hidup dalam istana megah berhias permata, emas, dan perak. Setiap kali keluar istana ia selalu di kawal 80 orang pengawal. 40 orang berada di depan dan 40 orang berada di belakang, semua lengkap dengan pedang yang terbuat dari baja yang berlapis emas.

Suatu malam, ketika sedang terlelap tidur di atas dipannya, tiba tiba ia dikejutkan oleh suara langkah kaki dari atas genteng, seperti seseorang yang hendak mencuri. Ibrahim menegur orang itu, “Apa yang tengah kamu lakukan di atas sana?” Orang itu menjawab, “Saya sedang mencari ontaku yang hilang.” “Apa kamu sudah gila, mencari onta di atas genteng,” sergahnya. Namun orang itu balik menyerang, “Tuan yang gila, karena tuan mencari Allah di istana.”

Jawabannya membuat Ibrahim tersentak, tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu. Ia gelisah, kedua matanya tidak dapat terpejam, terus menerus menerawang merenungi kebenaran kata kata itu. Hingga adzan Shubuh berkumandang Ia tetap terjaga. Esok harinya, keadaannya tidak berubah. la gelisah, murung, dan sering menyendiri. la terus mencari jawaban di balik peristiwa malam itu. Karena tidak menemukan jawabannya, sementara kegelisahan hatinya semakin berkecamuk, ia mengajak prajuritnya berburu ke hutan, dengan harapan beban di kepalanya sedikin berkurang.

Akan tetapi, sepertinya masalah itu terlalu berat baginya, sehingga tanpa disadarl kuda tunggangan yang ia pacu sejak tadi telah jauh meninggalkan prajuritnya, ia terpisah dari mereka, jauh ke dalam hutan, menerobos rimbunnya pepohonan tembus ke satu padang rumput yang luas. Kalau saja ia tidak terjatuh bersama kudanya, mungkin ia tidak berhenti. Ketika ia berusaha bangun, tiba tiba seekor rusa melintas di depannya. Segera ia bangkit, menghela kudanya

dengan cepat sambil mengarahkan tombaknya ke tubuh buruannya.

Tetapi, saat dia hendak melemparkan tombaknya, ia mendengar bisikan keras seolah memanggil dirinya, “Wahai Ibrahim, bukan untuk itu (berburu) kamu diciptakan dan bukan kepada hal itu pula kamu diperintahkan!” Namun, Ibrahim terus berlari sambil melihat kiri kanan, tapi tak seorang pun di sana, lalu ia berucap, “Semoga Allah memberikan kutukan kepada Iblis!” Dia pacu kembali kudanya. Namun, lagi-lagi teguran itu datang. Hingga tiga kall. la lalu berhenti dan berkata, “Apakah itu sebuah peringatan dari Mu? Telah datang kepadaku sebuah peringatan dari Allah, Tuhan semesta alam. Demi Allah, seandainya Dia tidak memberikan perlindungan kepadaku saat ini, pada hari hari yang akan datang aku akan selalu berbuat durhaka kepada Nyal”

Setelah itu, ia menghampiri seorang penggembala kambing yang ada tidak jauh dari tempat itu. Lalu memintanya untuk menukar pakaiannya dengan pakaian yang ia pakal. Setelah mengenakan pakalan usang itu, ia berangkat menuju Makkah untuk mensucikan dirinya. Dari sinilah drama kesendirian Ibrahim bermula. Istana megah ia tinggalkan dan tanpa seorang pengawal ia berjalan kaki menyongsong kehidupan barunya. Berbulan bulan mengembara, Ibrahim tiba di sebuah kampung bernama Bandar Nishafur.

Di sana ia tinggal di sebuah gua, menyendiri, berdzikir dan memperbanyak lbadah. Hingga tidak lama kemudian, keshalihan, kezuhudan dan kesufiannya mulai dikenal banyak orang. Banyak di antara mereka yang mendatangi dan menawarkan bantuan kepadanya, tetapi Ibrahim selalu menolak.
Beberapa tahun kemudian, ia meninggalkan Bandar Nishafur, dan dalam perjalanan selanjutnya menuju Makkah, hampir di setiap kota yang ia singgahi terdapat kisah menarik tentang dirinya yang dapat menjadi renungan bagi kita, terutama keikhlasan dan ketawadhuannya.

Pernah satu ketika, di suatu kampung Ibrahim kehabisan bekal. Untungnya, ia bertemu dengan seorang kaya yang membutuhkan penjaga untuk kebun delimanya yang sangat luas. Ibrahim pun diterima sebagai penjaga kebun, tanpa disadari oleh orang tersebut kalau lelaki yang dipekerjakannya adalah Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang sudah lama ia kenal namanya. Ibrahim menjalankan tugasnya dengan baik tanpa mengurangi kuantitas ibadahnya. Satu hari, pemilik kebun minta dipetikkan buah delima. Ibrahim melakukannya, tapi pemilik kebun malah memarahinya karena delima yang diberikannya rasanya asam. “Apa kamu tidak bisa membedakan buah delima yang manis dan asam,” tegurnya. “Aku belum pernah merasakannya, Tuan,” jawab Ibrahim. Pemilik kebun menuduh Ibrahim berdusta. Ibrahim lantas shalat di kebun itu, tapi pemilik kebun menuduhnya berbuat riya dengan shalatnya. “Aku belum pernah melihat orang yang lebih riya dibanding kamu.” “Betul tuanku, ini baru dosaku yang terlihat. Yang tidak, jauh lebih banyak lagi,” jawabnya. Dia pun dipecat, lalu pergi.

Di perjalanan, ia menjumpai seorang pria sedang sekarat karena kelaparan. Buah delima tadi pun diberikannya. Sementara itu, tuannya terus mencarinya karena belum membayar upahnya. Ketika bertemu, Ibrahim meminta agar gajinya dipotong karena delima yang ia berikan kepada orang sekarat tadi. “Apa engkau tidak mencuri selain itu?” tanya pemilik kebun. “Demi Allah, jika orang itu tidak sekarat, aku akan mengembalikan buah delimamu,” tegas Ibrahim.
Setahun kemudian, pemilik kebun mendapat pekerja baru. Dia kembali meminta dipetikkan buah delima. Tukang baru itu memberinya yang paling manis. Pemilik kebun bercerita bahwa ia pernah memiliki tukang kebun yang paling dusta karena mengaku tak pernah mencicipi delima, memberi buah delima kepada orang yang kelaparan, minta dipotong upahnya untuk buah delima yang ia berikan kepada orang kelaparan itu. “Betapa dustanya dia,” kata pemilik kebun. Tukang kebun yang baru lantas berujar, “Demi Allah, wahai majikanku. Akulah orang yang kelaparan itu. Dan tukang kebun yang engkau ceritakan itu dulunya seorang raja yang lantas meninggalkan istananya karena zuhud.” Pemilik kebun pun menyesali tindakannya, “Celaka, aku telah menyia-nyiakan kekayaan yang tak pernah aku temui.”

Menjelang kedatangannya di Kota Makkah, para pemimpin dan ulama bersama sama menunggunya. Namun tak seorang pun yang mengenali wajahnya. Ketika kafilah yang diikutinya memasuki gerbang Kota Makkah, seorang yang diutus menjemputnya bertanya kepada Ibrahim, “Apakah kamu mengenal Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang terkenal itu?” “Untuk apa kamu menanyakan si ahli bid’ah itu?” Ibrahim balik bertanya.

Mendapat jawaban yang tidak sopan seperti itu, orang tersebut lantas memukul Ibrahim, dan menyeretnya menghadap pemimpin Makkah. Saat diinterogasi, jawaban yang keluar dari mulutnya tetap sama, “Untuk apa kalian menanyakan si ahli bid’ah itu?” Ibrahim pun disiksa karena dia dianggap menghina seorang ulama agung. Tetapi, dalam hatinya Ibrahim bersyukur diperlakukan demikian, ia berkata, “Wahai Ibrahim, dulu waktu berkuasa kamu memperlakukan orang seperti ini. Sekarang, rasakanlah olehmu tangan-tangan penguasa ini.”
Banyak pelajaran yang bisa kita petik dari perjalanan seorang bekas penguasa seperti Ibrahim bin Adham, dari pengalamannya memperbarbaiki diri, dari kesendiriannya menebus segala kesalahan dan kelalaian, dari keikhlasan, kezuhudan, dan ketawadhuannya yang tak ternilai

Belajar Dari Pohon

Suatu ketika, seorang guru bertanya pada Sang Maha Guru, “Wahai Maha Guru, aku ingin menjadi guru yang sejati bagi anakku, juga bagi murid-muridku. Apakah Maha Guru memiliki pesan untukku, agar setiap kali mengajar aku akan selalu teringat pesan bijaksanamu?”
Sang Maha Guru terdiam sejenak. Lalu sambil tersenyum arif ia bertanya, “Apakah kamu pernah melihat pepohonan di sekitarmu?”
“Ya, tentu saja,” kata si guru.
Sang Maha Guru bertanya kembali, “Apakah kamu benar-benar melihat dan memperhatikan apa yang mereka lakukan?”
Si guru menggaruk-garuk kepalanya, “Setahuku mereka diam saja dan tidak melakukan apa-apa.”
Sang Maha Guru tersenyum lagi, lalu mulailah ia berpesan :
“Jadilah seperti pohon. Perhatikanlah, ia diam tak banyak bicara hingga kamu tidak menyadari apa yang dilakukannya. Padahal ia selalu memberimu udara untuk dihisap. Lihatlah bagaimana ia memberi udara pada semua orang tanpa memandang apakah kamu miskin atau kaya. Atau apakah kamu lahir dari kelompok etnik tertentu. Ia memberi udara bagi semua orang tanpa memandang agama, ras dan suku bangsa. Apakah kamu bersedia membagi ilmumu untuk semua orang tanpa pilih kasih?”
“Jadilah seperti pohon. Ia tidak banyak berbicara tapi terus bertumbuh setiap hari. Jika sudah tidak bertumbuh maka ia akan mati. Apakah dirimu merasa terus bertumbuh?”
“Jadi seperti pohon. Apabila sudah besar, ia akan menaungi siapa saja yang berada dibawahnya, tak peduli itu manusia atau hewan. Apakah kamu merasa dirimu sudah semakin besar dan menaungi apa saja yang berada dibawahmu?”
“Jadilah seperti pohon yang selalu menyejukkan, memperindah dan mempercantik tempat-tempat gersang. Apakah kamu merasa kehadiranmu telah membuat hati-hati yang gersang menjadi sejuk dan indah kembali?”
“Jadilah seperti pohon. Satu-satu kehidupan yang tumbuh ke atas dan berhasil melawan kuatnya gravitasi Bumi. Apakah kamu merasa dirimu telah berhasil melawan kuatnya godaan dan tantangan akan terus bertumbuh menjadi manusia dan guru yang lebih baik dari hari ke hari?”
“Jadilah seperti pohon yang menyuburkan tanah di sekitarnya dan menyimpan air di bawahnya untuk kehidupan semua makhluk hidup lainnya. Apakah kamu sudah menyuburkan lingkungan sekitarmu?”
“Jadilah seperti pohon, Seandainya sudah mati pun tubuhnya masih berguna bagi kesuburan tanah atau menjadi bahan baku tempat tinggal yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.”
Menurut Anda, apakah kita sudah lebih baik dari pohon?

SAHABAT
salam dari kami di samudra cinta SUFI AKHIR ZAMAN ( BB 21B8AFC9)
mohon maaf lahir bathin

Persiapkan Diri Untuk Suatu Perubahan, Kuncinya Ialah Perbaiki Diri, Perbaiki Ibadah, Perbanyak Dzikir dan Sedekah (Ustadz Muhammad Budiono Al Amin)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 567 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: